Sepasang Sendal Dan Kisah Yang Perlahan Memudar

Ilhamsadli.com,- Sering sekali saya dibilang sebagai pujangga oleh teman-teman sekampus. Ya, tidak heran jika demikian, karena faktanya memang aku lebih banyak menulis puisi daripada menulis materi kuliah. Masalahnya bukan malas, tetapi materi kuliah semuanya ada di slide power point atau di buku panduan. Tetapi bukan itu yang ingin saya ceritakan, melainkan bagaimana kisah unik saya seorang pujangga yang gagal move on kemudian perlahan membuka hati dan semuanya berawal dari sepasang sendal jepit.
Sepasang Sendal Dan Kisah Yang Perlahan Memudar
Masih terbayang sangat jelas, wajah sang mantan karena memang masih sering komunikasi. Bukan bekstret atau apa, tetapi hanya sekadar bersapa ria, karena memang dasarnya kami bersahabat sebelum benar-benar dekat dulu. Namun hal itu hanya sekadar sapa, alias pengalihan agar rasa benci terhadap dia yang menyakiti sirna dan berubah menjadi biasa saja. Saya sadar, memang saya seorang lelaki namun siapa sangka seorang lelaki yang nampak kuat diluar ternyata seorang yang rapuh jika dilihat dari sudut yang lain. Ya, begitulah saya. Seorang laki-laki yang ketika jatuh hati maka terlalu fokus pada hati itu hingga lupa bahwa masih ada hal penting diluar sana yang haru difokuskan. Mungkin isitilah anak sekarang "bucin".

Siapa yang akan mudah berpindah ke lain hati, dia yang mengajarkanmu mengenai bagaimana manisnya jatuh cinta. Rela untuk melakukan perjalanan jauh, hanya untuk menyapa atau sekadar menikmati segelas kopi buatannya. Jika diingat, sungguh geli rasanya namun begitulah kenyataannya ketika seorang seperti saya jatuh cinta, jarak bukan lagi sebuah halangan. Namun itu hanya kisah dahulu, berbeda dengan kisah sekarang yang lebih elegan. Karena saya sudah berdamai dengan masa lalu, berdamai dengan rindu, bahkan dengan tumpukan luka dan perih yang dia cipta.

Hal yang ada dimasa lalu, biarlah tetap berada di masa lalu. Walau ada kemungkinan seseorang di masa lalu menjadi orang di masa depan, namun hal itu kecil kemungkinan. Kenapa? Karena orang bilang "jodoh itu cerminan diri kita", dan dia pernah melukai sebongkah daging dalam diri anda hingga anda lupa bagaimana rasanya pernah dicintai. Yang tersisa hanyalah penyesalan dan yang tersisa tinggal kenangan bersama dia di masa itu. Kini akan menjadi kini, tak akan berubah menjadi dulu. Satu hal yang harus saya yakini adalah, ada seseorang diluar sana yang lebih baik daripada dia siap menerima dan berjalan berdampingan menjemput ridha-Nya.

Tidak pernah saya sadari, kalau ternyata ketika hati sudah yakin untuk mulai membuka lembaran baru, membuka hati untuk orang-orang baru. Sesuatu terjadi seakan menjadi pertanda bahwa memang yang hilang pasti akan terganti dan yang patah akan tumbuh.

Mungkin...
Sebagian orang menganggap bahwa mudah untuk membuka hati untuk orang lain setelah pernah terluka, namun ternyata dalam praktiknya tidaklah demikian. Karena pekerjaan yang paling susah menurut saya untuk dilakukan adalah berdamai dengan masa lalu, masa dimana diri yang kuat telah terbentuk secara tak sadar. Jadi ini adalah kisah dimana saya belajar untuk berdamai dan menemukan satu titik cerah, setelah sekian lama berada dalam bayang-bayang.
Sepasang Sendal Dan Kisah Yang Perlahan Memudar
Jadi, dalam sebuah acara. Saya hadir sebagai salah satu pemateri untuk sharing tentang dunia yang saya geluti. Ketika itu, masih hangat dalam ingatan bahwa saya menginap di masjid sekaligus iqtikaf karena acaranya dilaksanakan di 10 hari terahir bulan Ramadhan. Fikir saya waktu itu, "wah lumayan nih, bisa berbagi sekaligus ibadah, bisa sekalian iqtikaf juga nih". Ya, dan benar hal itu saya lakukan. Saya menginap di Masjid besar di pusat kota, dan sudah bisa dipastikan apa yang biasanya hilang di Masjid. Ya, sandal saya hilang ketika paginya setelah keluar dari kamar mandi Masjid.

Siapa yang menyangka kalau pagi sebelum acara tersebut, saya kehilangan sendal. Tapi saya tidak terlalu kecewa, hanya merasa aneh saja gitu. Seingat saya sih, sendal yang dipakai itu adalah sendal yang sudah lusuh dan tidak tampak baru, tapi memang sedikit bermerk sih. Karena hal demikian akhirnya sudah, saya ke lokasi bersama teman orang asli sana dengan "cekeran (tidak memakai sendal)". Sebelum ke lokasi, saya mampir ATM dulu mengambil uang untuk membeli sandal jepit. Namun saya agak risih seperti dalam iklan "semua mata tertuju padamu", karena setiap sorot mata yang melihat sepertinya merasa aneh dengan setelan saya yang rapi diatas namun tidak menggunakan alas kaki atau tidak menggunakan sepasang sendal.

Karena ATM tersebut hanya menyediakan pecahan 100 ribu, akhirnya seratus ribu saya gunakan untuk beli sendal jepit seharga 8 ribu. Belanjanya di warung warga disekitar lokasi acara, namun karena acara masih lama dimulai dan lokasi masih digunakan untuk acara lain, akhirnya saya memilih untuk nongkrong di wifi corner yang letaknya lumayan jauh dari lokasi. Namun, cocok buat nongkrong sambil wifian dan menyelesaikan beberapa kerjaan memang.

Hilangnya sendal tersebut mengajarkan bahwa yang harus dilakukan untuk bisa kembali membuka hati adalah mencari hal baru dan berdamai dengan masa lalu. Sesekali mengingat masa lalu bukan hal yang buruk, selama masa lalu tersebut membuat kita semakin kuat untuk menjadi diri kita sekarang dan di masa depan. Inilah kisah sederhana mengenai sepasang sendal dan kisah yang perlahan memudar. Semoga bisa bermanfaat ya, maaf jika kisahnya biasa saja. Karena kisah ini hanyalah kisah biasa dari laki-laki biasa.

6 Responses to "Sepasang Sendal Dan Kisah Yang Perlahan Memudar"

  1. Wahhhhhh, berhubungan dengan orang dimasa lalu itu emang terkadang menyulitkan. Makanya kita perlu waktu untuk menepi, dan mulai sadar bahwa kita tidak lagi masih dibagian masa lalu itu. Move on itu penting, tapi soal waktu sihh dan soal kemauan. Kan kalau katanya aja pengen move on tapi masih stalking si mantan, ya percuma sih :(

    ReplyDelete
  2. Wkwkkwkwkw gak jauh beda sama baper mantan ya kak, btw sendalnya merk swallow bukan? Hahhaha. Setuju bgt bahwa "Jodoh itu cerminan diri kita". Mantab, smg aku disegerakan *eh.

    ReplyDelete
  3. Move on kak. Jgn gagal lagi. Hihii ..
    Kalau aku, smua yg berhubungan dg masa lalu sudah aku tutup crta. Bahkan mereka berulang kali mencoba menyentuh hatiku kembali. Sayang aku bgtu keras dg pendirian. Masih untung aku masih mau blas chat ny. Wkwk ..

    Seperti ktamu, "Masa lalu biarlah hanya menjadi masa lalu"

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar, jangan lupa follow twitter @ilhamsadly, Instagram @ilhamsadli atau subscribe email anda untuk mendapatkan update terbaru. Terimakasih sudah berkunjung

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel