Bibirku pilu, membeku
Melihat langkahmu tegas menghampiriku
Dengan keyakinan besarmu, untuk dapat memikat hati orangtuaku 
Semoga Allah memudahkan langkahmu

Aku menunggu penuh ragu
Akankah jawaban itu terbelenggu
Karena ratusan pertanyaan Ayah yang membuatmu termangu
Dinding ruang tamu menjadi saksi keberanianmu

Wajahmu pucat pasi
Tatapan itu mulai tak bereaksi
Apakah pertanyaan Ayah kolot dan basi?
Atau kau sudah bosan dengan situasi?

Bukan hanya kamu, aku pun menanti gelisah
Menunggu dengan do’a tanpa suara
Mengumpulkan kembali asa yang mulai menyerah
Menyeka air mata yang ingin tumpah

Hampir satu jam aku menunggu cemas dibalik tirai
Menanti sebuah jawaban di sore hari ini
Atas mimpi indah yang ingin kita raih
Tanpa ridhonya, mimpi itu tak akan berarti

Percakapan ini telah usai, ruang tamu lengang
Ayah dan kamu diam, tegang
Membuat fikiran negatif terngiang-ngiang
Mengapa mereka tak terlihat riang?

Ayah, waktu berlalu sangat cepat
Umurku kini dua puluh empat
Masa remajaku kini siap kulepas
Terimakasih atas pilihan terbaik Ayah yang tak akan pernah bisa kubalas. 


Penulis:
Tarwia Ulfah
Anggota FLP Jombang
Mahasiswa Sastra Inggris 
Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang.