Pernah Tertipu! Ini Tips Untuk Terhindar Dari Penipuan dan Kejahatan Siber Dengan Jadi Nasabah Bijak

Ilhamsadli.com,- Sebelum mengenal bank, siapa di antara kita yang dulu menabung uangnya di celengan ayam atau celengan bambu? Atau malah suka menaruh uang di bawah bantal dan kasur? Menabung di celengan tentu bukan tanpa alasan, karena kebanyakan waktu masih kecil sering tergoda dengan hal sederhana seperti jajanan misalnya. Tidak hanya itu, penggoda lainnya juga adalah pasar malam.

Jadi alasan masih menggunakan celengan waktu masih kecil adalah karena mudah untuk mengambil uangnya, dan satu lagi alasannya adalah terobsesi setelah menonton film “Joshua Oh Joshua”. Dari film Joshua banyak anak yang belajar menabung untuk mendapatkan sesuatu, bahkan menyimpannya pun sudah seperti harta karun.

Tips Untuk Terhindar Dari Penipuan dan Kejahatan Siber Dengan Jadi Nasabah Bijak

Peralihan Dari Celengan ke Bank

Masa peralihan ini saya rasakan ketika tahun 2012, karena harus memiliki buku tabungan dan ATM untuk bisa mendapatkan kiriman uang dari orang tua. Bisa dibilang masa-masa itu adalah masa dimana saya pada akhirnya sangat berhemat, bahkan makan saja kadang harus nasi diberi garam atau hanya makan mi instan selama beberapa hari. Maklumlah, anak kosan yang hanya mengandalkan kiriman uang dari orang tua.

Namun pada tahun 2015, alhamdulillah bisa mendapatkan penghasilan tambahan sehingga tidak terlalu terpaku pada kiriman orang tua. Memang tidak sebanyak penghasilan pekerja tetap, tapi lumayan jika digunakan untuk membeli pulsa dan makan sehari-hari serta biaya pengerjaan tugas kuliah. Alhamdulillahnya lagi masih ada yang bisa ditabung sehingga seingat saya dulu punya tabungan 500 ribu di Bank BRI.

Uang hasil kerja pertama sebagai seorang freelance writer ketika itu lumayan membuat keseharian saya semakin tenang. Hingga pada suatu ketika terjadi tragedi yang kurang mengenakkan yaitu uang tabungan tersebut harus ludes tidak tersisa karena terkena penipuan.

Pengalaman Tertipu Oknum Sehingga Tabungan Ludes

Mungkin banyak yang pernah mengalami, tetapi sebagian diantaranya beruntung sehingga tabungannya tidak habis percuma. Saya, di sekitar tahun 2016 pernah ditipu oknum melalui telepon dengan dalih diberikan hadiah berupa uang yang akan ditransfer melalui rekening bank. Awalnya saya kaget, karena memang ketika itu uang tabungan hanya tersisa uang 100ribu sedangkan si oknum minta di atas itu.

Ya memang, oknum ini bukanlah oknum yang mengatasnamakan bank tetapi salah satu provider dengan sindikat yang sama yaitu “menang undian”. Betapa butanya saya ketika itu yang langsung percaya, padahal ketika disuruh melakukan transaksi di bank tanpa sadar langsung saya iyakan. Kemudian tidak hanya itu, karena saldonya tidak mencukupi maka terpaksa saya harus menghubungi salah satu teman untuk meminjam uang.

maraknya penipuan online

Tidak cukup hanya itu, ketika saldo sudah habis baik di tabungan saya ataupun di tabungan teman ternyata masih berlanjut ke dalih berikutnya. Dalih berikutnya adalah meminta dibelikan pulsa dengan alasan “bilang saja diminta sama om saya yang habis ini akan datang”. Saya masih ingat ketika itu petugas minimarket mewanti-wanti saya untuk tidak percaya setelah melakukan transaksi pulsa 100 ribu namun belum bayar, petugas minimarket itu berkata “mas, sampean kena tipu (mas, kamu ditipu)”. Apa mau dikata, karena kondisi ketika itu memang sedang butuh uang untuk bayar SPP dan Praktikum, jadinya saya percaya saja kalau benar akan diberikan hadiah.

Sampai pada akhirnya, saya harus ditahan sekitar 30 menit di dalam gudangnya minimarket untuk memastikan bahwa saya akan membayar tagihan tadi. Berbagai cara saya lakukan untuk meyakinkan petugas minimarket bahwa saya akan kembali dan membayar, namun kepalang basah petugasnya sudah tidak percaya dengan ucapan saya. Alhasil, solusi terakhirnya adalah menghubungi teman yang lain sehingga akhirnya bisa membayar tagihan di minimarket namun punya utang ke teman. Alhamdulillah setelah beberapa minggu utang tersebut terbayarkan.

Macam – Macam Penipuan Online Hingga Kejahatan Siber Era Digital

Pengalaman saya tadi adalah satu diantara sekian banyak jenis penipuan hingga kejahatan yang dilakukan oleh oknum. Tentunya tindakan seperti itu sangat tidak dibenarkan karena merugikan orang lain, bisa saja malah terkena pasal mengenai penipuan dan tindak kejahatan. Akhirnya akan berujung pada bui. Namun karena perkembangan teknologi yang semakin pesat ini, sehingga bisa dikatakan bahwa inovasi digital sudah menjamur dan tumbuh subur di sekitar masyarakat.

Inovasi ini diantaranya adalah hadirnya dompet digital hingga sistem pembayaran menggunakan QRIS sehingga kemungkinan untuk terjadinya kejahatan siber seperti pencurian data dan penyalahgunaan data menjadi besar. Semua bank sekarang sudah menjalankan sistem bayar atau transaksi hanya dalam sekali sentuh. Kehadiran aplikasi-aplikasi finansial seperti m-banking menjadikan masyarakat menjadi lebih mudah melakukan transaksi.

Tentunya ini tidak lepas dari bagaimana perkembangan dan penyebaran gadget dan internet di masyarakat. Dilansir dari data BPS tahun 2020 62,84% masyarakat menggunakan gadget atau gawai dan 53.37% menggunakan internet secara aktif. Mungkin itu yang membuat semua produk perbankan mulai mengembangkan inovasi seperti ini. Namun tetap saja akan selalu ada kurang dan lebihnya.

Bisa dikatakan bahwa teknologi ini seperti halnya dua mata pisau, apabila tidak penuh kehati-hatian bisa merugikan diri sendiri bahkan juga orang lain. Seperti yang saya alami, penipuan yang berujung juga merugikan teman dan petugas minimarketnya. Kehati-hatian masyarakat bisa dikatakan sebagai salah satu langkah bijaknya sebagai seorang nasabah dari sebuah produk perbankan.

penipuan di perbankan
Contoh Info Hoax Penipuan

Beberapa jenis kejahatan berupa penipuan hingga kejahatan siber pada akhirnya menjadi hal yang harus dihadapi setiap masyarakat seiring dengan perkembangan teknologi. Banyak sekali jenis penipuan hingga kejahatan siber di dunia digital yang mau tidak mau haruslah diwaspadai.

Kejahatan pertama tentunya adalah penipuan, karena teknologi yang semakin canggih memungkinkan kejahatan berupa penipuan ini marak. Terlebih ketika fenomena online shop menjamur, ada teknologi di mana seseorang memanfaatkan teknologi untuk memalsukan bukti pembayaran digital.

Kejahatan kedua yang bisa saja terjadi adalah peretasan akun sosial media hingga peretasan data di gawai. Bahkan beberapa kali menemui teman yang akunnya diretas secara tidak sadar, penyebabnya kadang karena tidak bijak memilih apa yang dibuka.

Kejahatan siber ketiga adalah skimming dan phising, biasanya modelnya adalah seperti pengiriman link yang mencurigakan sehingga mengakibatkan seseorang mengirim pesan tertentu ke pengguna lain, dan pengguna lain ketika klik pesan tersebut akan melakukan hal yang sama. Dan yang paling populer adalah rekayasa sosial yang biasanya berupa pengiriman kode OTP dan oknum meminta kode OTP tersebut dengan dalih atau mengaku sebagai petugas.

Langkah Bijak Untuk Meminimalisir Terjadinya Kejahatan Siber

Tentunya jika nasabah perbankan atau masyarakat secara menyeluruh tidak bijak menyikapinya, bisa saja menjadi sasaran empuk untuk para pelaku kejahatan siber di dunia maya ini. Seperti kalimat yang disampaikan oleh sosok fenomenal Bang Napi “kejahatan terjadi bukan karena niat pelakunya tetapi karena ada kesempatan, waspadalah!”

Lantas? Bagaimana langkah bijak yang bisa dilakukan seorang nasabah untuk terhindar dari penipuan dan kejahatan siber ini? Simak tipsnya berikut ini.

- Bijak Memilih dan Memilah Informasi

Dengan perkembangan teknologi yang bisa dikatakan sangat cepat, maka bisa dipastikan penyebaran informasi juga seperti kilat. Sekali sentuh maka informasi bisa tersebar dengan begitu cepatnya. Tanpa sadar, netizen kita kerap kali lupa untuk saring sebelum sharing informasi, buktinya info hoax sangat mudah sekali tersebar di media sosial, terutama di whatsApp dan Facebook.

- Bijak Menggunakan Sosial Media

Langkah bijak kedua yang bisa dilakukan sebagai seorang nasabah bijak adalah dengan berhati-hati menggunakan sosial media. Jangan sampai kita menyalahkan seseorang karena menggunakan data kita, sedangkan tanpa sadar kita sendiri yang sudah menyebarkannya.

Contoh sederhananya adalah tindakan mencetak kartu vaksin, kemudian tidak sedikit yang mengirimkan foto kartu vaksin tersebut di media sosialnya tanpa melindungi nomor induk kependudukannya. Padahal nomor tersebut sangat riskan.

Contoh kedua yang juga sering luput dilakukan adalah dengan memposting informasi privasi seperti suasana rumah beserta keamanannya. Atau bahkan nomor teleponnya sehingga dengan mudah oknum memanfaatkan data yang sudah disebar di sosial media tersebut. Tentunya pada akhirnya kita tidak bisa menyalahkan orang lain melainkan harus kembali introspeksi diri.

- Stop Hoax Di Tangan Anda

Ini adalah istilah yang tepat agar kita bisa memvalidasi apakah informasi yang didapatkan merupakan hoax atau fakta. Jika memang hoax maka yang perlu dilakukan adalah melakukan stop penyebarannya cukup sampai ke anda, jangan sampai informasi hoax tersebut tersebar dan dinikmati orang terdekat atau orang lain juga.

- Ikut Andil Dalam Melakukan Edukasi

Mungkin tidak harus menjadi penyuluh digital, namun langkah kecil yang bisa dilakukan adalah mulai dari diri sendiri dan orang terdekat. Seperti kata Aa’ Gym untuk menerapkan 3M yakni mulai dari hal yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang. Jika memang punya pengetahuan mengenai hal itu atau pengalaman tidak enak, maka pastikan orang lain juga tidak merasakan hal yang sama.

- Cerdas Melakukan Transaksi Digital

Ketika melakukan transaksi digital, penting sekali untuk berhati-hati. Usahakan mengaktifkan dua kali verifikasi keamanan sehingga bisa lebih terjamin, kemudian bisa juga dengan mengaktifkan fitur sidik jari atau deteksi wajah.

- Pastikan Penyedia Layanan Keuangan diawasi OJK dan LPS

Hal ini sangat penting, karena beberapa waktu terakhir marak kemunculan aplikasi pinjaman online yang sekali sentuh langsung bisa cair di rekening. Tetapi karena tidak diawasi oleh OJK maka pada kenyataannya banyak korban penyelewengan dari pinjaman online ini dan tidak bisa membayar tagihannya yang menggelembung.

- Jika terjadi Hal Yang Mencurigakan, Segera Hubungi Layanan Resmi

Beberapa bulan terakhir bahkan beberapa tahun belakangan tidak sedikit teman saya di media sosial mengatakan bahwa mereka mendapatkan chat, DM atau SMS dari oknum yang mengatasnamakan layanan perbankan. Bahkan saya pernah satu waktu menanyakan kendala di media sosial layanan perbankan kemudian hanya hitungan detik sudah bermunculan akun bodong yang menggunakan profil dan nama layanan perbankan tersebut. Jika tidak jeli, bisa saja terjadi indikasi penipuan dan kejahatan siber lainnya.

Oleh karenanya, jika memang teman-teman semua mengalami kendala seperti misalkan PIN Error di BRI Mobile atau aplikasi milik BRI maka sudah seharusnya langsung menghubungi costumer services resminya saja. Jika tidak bisa pergi langsung ke kantor cabang terdekat, bisa dengan menghubungi saluran komunikasi resmi www. bri.co.id, instagram @bankbri_id, twitter @bankbri_id, kontak_bri, promo_bri, facebook : Bank BRI, Tiktok : Bank BRI dan kontak BRI di nomor 14017/ 1500017.

Nah, itu dia pengalaman saya mengalami penipuan dan langkah yang diambil. Maka penting untuk menjadi seorang Nasabah Bijak, Karena dengan berpartisipasi aktif menjadi agen perubahan dengan menerapkan 3M tadi, maka insyaAllah perlindungan diri sudah kita lakukan. Kita nyaman dan pastinya keluarga serta orang tersayang juga akan nyaman.

Ilham Sadli Seorang Travel blogger sekaligus freelance Writer yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena Cabang Jember sejak 2014, suka menulis puisi dan kadang terlalu nyaman dengan menulis kisah seseorang.

Belum ada Komentar untuk "Pernah Tertipu! Ini Tips Untuk Terhindar Dari Penipuan dan Kejahatan Siber Dengan Jadi Nasabah Bijak"

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar, jangan lupa follow twitter @blogsadli, Instagram @ilhamsadli atau subscribe email anda untuk mendapatkan update terbaru. Terimakasih sudah berkunjung

Rajabacklink