Teaching Factory POLIJE Sebagai Solusi Pertanian Masa Depan

Ilhamsadli.com,- Pernah gak kepikiran tentang bagaimana jadinya, bagaimana nasibnya pertanian di Indonesia ketika lahan sudah semakin sedikit dan kebutuhan akan pangan semakin meningkat? Kalau aku pribadi sempat kepikiran mengenai hal itu, bagaimana akhirnya agar udara tetap bisa bersih dan tidak begitu kelam seperti kisah cintaku. Karena di masa depan, memang kita perlu sebuah teknologi inovasi untuk bisa bertahan dalam sebuah kebaikan.

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara agraria dan memang diperlukan mereka-mereka yang peduli dan ingin berjuang untuk itu. Kalau boleh aku berkomentar, maka mungkin ini adalah karena akademik atau menjadi akademisi masih jauh lebih bergengsi menurut beberapa orang. Namun nyatanya kita memang membutuhkan tenaga ahli yang seimbang. Ya, ada yang berjuang sebagai akademisi dan ada juga berjuang sebagai tenaga ahli.

 Teaching Factory POLIJE Sebagai Solusi Pertanian Masa Depan

Tentang Akademik dan Vokasi

Jujur, aku pribadi dulu pernah salah persepsi mengenai pendidikan vokasi. Bukan apa, tetapi rasanya dahulu serjana lebih terlihat bergengsi daripada vokasi. Namun perlahan maindset itu tergser ketika bertemu dengan teman-teman hebat dari beberapa perguruan tinggi vokasi. Dan titik baliknya adalah minggu lalu, ketika duduk bercengkrama dengan direktur dari Politeknik Negeri Jember.

Seakan membuka portal besar bahwasanya kedepan memang jangan sampai ada yang mindsetnya sepertiku, karena pemikiran seperti itu sudah bukan zamannya lagi.

Pendidikan Vokasi adalah pendidikan mengacu kepada penguasaan keahlian terapan tertentu. Pendidikan Vokasi mencakup program pendidikan Diploma I (D1), Diploma II (D2), Diploma III (D3), dan Diploma IV (D4), bahkan sampai Magister Terapan (S2 Terapan) dan Doktor Terapan (S3 Terapan). Nantinya, ketika lulusannya akan mendapatkan gelar Vokasi, seperti; Ahli Pratama (A.P), Ahli Muda, Ahli Madya dan Sarjana Terapan dan seterusnya.
Teaching Factory POLIJE
Lokasi: TeFa Bunga Potong Rembangan

Apa bedanya Vokasi dan Sarjana?

S1 adalah pendidikan Akademik yang fokus kepada pengembangan daya nalar sehingga muatan mata kuliahnya hamper 100% adalah Teori; sedangkan Pendidikan Tinggi Vokasi adalah pendidikan yang fokus kepada meningkat keahlian terapan tertentu dari taraf terampil menjadi mahir, sehingga muatan mata kuliahnya 60% adalah Praktek

Berkunjung Ke Teaching Factory POLIJE Semakin Membuka Portal

Alhamdulillah tanggal 17 dan 18 September kemarin diberikan kesempatan untuk berkeliling ke beberapa taeching factory (TeFa) yang dikelola oleh Politeknik Negeri Jember.Tentunya kunjungan kami para blogger dan influencer lainnya tetap mengikuti protokol kesehatan dan prosedur yang ada, dan pastinya kami ditemani oleh para tenaga ahli lapangan. Beliau – beliau inilah yang memberikan kami penjelasan mengenai apa yang kami kunjungi.

Ada banyak hal yang sempat aku tanyakan dengan beberapa tenaga ahli disana, terebih beberapa TeFa yang menurutku menarik memang untuk diulas lebih dalam. Jika ada kesempatan, insyaAllah akan saya coba ulas satu persatu mengenai TeFa ini nantinya dalam 1 tulisan utuh.

Beberapa TeFa yang Akan Menentukan Masa Depan Pertanian di Indonesia

Dari awal tadi sudah aku sampaikan mengenai bagaimana kedepan, ketika lahan sudah semakin sempit karena digeser oleh bangunan atau infrastruktur dan populasi semakin bertambah yang artinya kebutuhan pangan juga akan demikian. Maka sebuah solusi di masa depan adalah dengan bagaimana bisa memanfaatkan lahan sebaik mungkin, salah satunya adalah inovasi teknologi dalam bidang pertanian. Berikut ini beberapa TeFa yang aku kunjungi kemarin dengan beberapa penjelasan sederhananya mengenai TeFa tersebut.

Teaching Factory (TeFa) Kebun Inovasi

Lokasi pertama yang dikunjungi ketika itu adalah adalah TeFa Kebun Inovasi, dan satu hal yang mencolok adalah semangka yang dihasilkan diantaranya Amarelo (semangka kuning non biji), Amara (semangka merah non biji), Luna maya, Black suit/Inul. Sedangkan buah Melon diantaranya kuning Alisa (tidak ada jaring) dan Alina (ada jaring). Dengan cita rasa yang manis, karena memang dirawat dengan sepenuh hati. Tidak hanya itu, beberapa lokasi ternyata instagramable karena beberapa selebgram menemukan spot bagus untuk foto-foto.

Oh ya. Menurut informasi, cikal bakal Kebun Inovasi initerbentuk dari kerjasama Politeknik Negeri Jember dengan Balai Pengawasan Sertifikasi Benih (BPSB) Jawa Timur untuk menggelar teknologi benih skala nasional tahun 2015 yang selanjutnya dilanjutkan secara mandiri. Sampai akhirnya kini salah satu produk benih sudah bisa diproduksi oleh para ahlinya di Politeknik Negeri Jember. Tentunya, ini tidak pernah lepas dari perjuangan semua orang yang andil dalam sebuah proses panjang. Padahal pada awalnya hanya mengelola tanaman semusim seperti sayuran hortikultura yang 3-4 bulan sekali dan sayuran 40 hari. 
TeFa Kebun Inovasi Polije
Kebun Inovasi

Seiring berjalannya waktu, saat ini perlahan mulai merambah ke tanaman hortikultura yang sifatnya tahunan seperti jeruk yang sudah bekerja sama dengan Balijestro Seperti Jeruk Siam Pontianak, Banjar, Jeruk Keprok Manis, Pamelo (Jeruk Bali), Montaji (lemon tanpa biji), Nanas Madu (nanas super), Pepaya, dan Nanas. Untuk jenis sayuran yang ditanam seperti bawang merah.

Usaha ini akhirnya membuahkan hasil, dimana akhirnya dijadikan sebagai pelopor untuk sebuah gerakan dan gebrakan baru demi memajukan pertanian khususnya Jawa Timur di masa depan. Untukkonsep dari TeFa Kebun Inovasi yaitu menanam tanaman yang ada nilai ekonomisnya, bisa disimpan dalam waktu yang lama dan bisa petik sendiri di lahan. Selain untuk edukasi dan kosultasi juga bisa diperjualbelikan ke masyarakat.

Dengan adanya kebun Inovasi ini, akhirnya para mahasiswa bisa langsung terjun praktek seperti merasakan bagaimana kondisi lapangan ketika mereka akhirnya berada di masyarakat. Tujuannya tentu agar memang mahasiswanya menjadi seorang tenaga ahli yang tidak cuma mengerti teori namun tentang penerapan teori itu sendiri. Seperti tujuan utama dari pendidikan vokasi yakni melahirkan para tenaga ahli bukan hanya akademisi. 

Oh ya, untuk pemasaran dari hasil pertanian yang ada di TeFa Kebun Inovasi ini ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Karena memang relasi dari banyak pihak yang tanpa sengaja mempromosikan hasil dari kebun Inovasi ini. Beberapa buah dihidangkan dalam satu wadah di dampingi teh hangat menjadikan cita rasa dari buah lebih meresap ke dalam jiwa, ah lebay juga rasanya.Tetapi memang begitu kenyataannya.

Teaching Factory (TeFa) Smart Green House

Sebuah latar belakang dibangunnya TeFa Smart Green House ini adalah untuk memudahkan dalam pemenuhan kebutuhan pasar akan buah Melon. Jika buah melon di luar hanya bisa di panen sekali setahun, maka dengan adanya TeFa Smart Green House ini akhirnya buah melon bisa dipanen sesuai dengan keinginan dan tentunya ada banyak sekali kelebihannya. Karena inovasi penggabungan antara pertanian dan teknologi informasi, maka semuanya menjadi sebuah hal yang mungkin.

Berbeda dengan TeFa Kebun Inovasi yang waktu panennya bergantung dari musim, iklim atau cuaca alam. Dengan Smart Green House ini akhirnya semuanya menjadi berbeda, karena musimnya bisa dimodifikasi. Sistemnya membuat cuaca sendiri karena berada di dalam ruangan. Misalnya kondisi di luar Green House panas, suhu yang ada di dalam ruangan akan dibuat sesuai dengan keinginan sehingga buah yang dihasilkan bisa maksimal. Mulai dari suhu, kelembaban, CO2 dan sebagainya diatur sesuai dengan kebutuhan tanaman. 
TeFa Smart Green House Polije
Smart Green House

Instalasi yang digunakan juga menarik untuk diperhatikan dengan seksama, karena nutrisi yang dibutuhkan melon benar-benar diatur dan untuk jadwal panennya sudah ditarget. Satu hal yang paling menarik adalah maintance dari sistemnya sudah terintegrasi dengan internet, sehingga bisa dipantau dan diatur dari smartphone, meskipun memang disediakan setting manual. Namun ini memang cocok seperti penamaannya, yakni Smart Green House yang memang smart. 

TeFa Smart Green House didesain sedemikian rupa sehingga bisa lebih bersih dan lebih aman residu pestisida yang bisa saja menyebabkan cita rasa varietas melon menjadi maksimal, misal kres rasa manis serta usia panen lebih cepat yaitu selisih 10 hari dibandingkan dengan budidaya di lingkungan terbuka atau di TeFa Kebun Inovasi tadi. Tujuannya tentu memudahkan mahasiswa untuk tetap mengikuti perkembangan zaman dengan sebuah kreasi dan inovasi dengan tujuan menciptakan sesuatu yang baru.

Jika diberikan pertanyaan mengenai bagaimana rasa buah yang dihasilkan, maka rasanya jauh lebih manis dari hasil budidaya di lingkungan terbuka. Andaikan ratingnya adalah angka 1 hingga 10 maka aku memberikan angka 9 untuk cita rasa yang di hasilkan. Kenapa bisa demikian? Ternyata di bagian akhir dijelaskan oleh teknisi lapangannya bahwa pasar hasil panen dari TeFa Smart Green House ini adalah untuk skala Super Market. Maka bisa disimpulkan bahwa kualitas ditentukan oleh kuantitas, tapi jangan tanyakan berapa investasi yang diperlukan.

Teaching Factory (TeFa) Kopi

Di TeFa Kopi ini, kita bisa melihat bagaimana proses sortir hingga pengemasan. Jenis kopi yang dikelola hingga menjadi kopi siap seduh meliputi kopi Arabica dan Robusta. Untuk kegiatan yang dilakukan di TeFa Kopi ini bisa dikatakan sebagai proses yang detail karena dimulai dari mengenal jenis kopi, cara menggoreng kopi, cara menyeduh hingga menyicipi kopi.

Kopi yang digunakan memang belum dari kopi hasil petik sendiri, karena lahan kopi yang disiapkan juga digunakan untuk praktikum mahasiswa, dan solusinya adalah melakukan kemitraan dengan asosiasi petani Kopi yang tergabung pada Gabungan Kelompok Tani Kopi Maju Mapan Panti. Awalnya gedung TeFa Kopi merupakan laboratorium untuk praktikum, belum sampai bisa memproduksi dan dijual seperti sekarang ini. Saat ini telah aktif berproduksi dimulai dari pengolahan dari buah kopi (gelondong) hingga dikemas dan dijual di outlet. TeFa Kopi bisa memproduksi sesuai permintaan dan sekali produksi bisa 100 kemasan.Kopi yang dijual bisa berupa kopi biji sangria dan kopi bubuk Arabika-Robusta.
TeFa Smart Kopi Polije
TeFa Backrey

Teaching Factory (TeFa) Kultur Jaringan

Dari 4 TeFa tentang pertanian ini, TeFa Kultur Jaringan ini yang paling menarik perhatianku. Semuanya karena dulu sempat penasaran seperti apa sebenarnya proses kultur jaringan untuk memperbanyak tanaman. Setelah melakukan kunjungan, ternyata baru ku tahu kalau teknik dan cara yang aku gunakan dahulu itu keliru. Ternyata tidak bisa dilakukan sembarangan, karena suhu dan ruang yang tertutup serta terbuka menjadi salah satu syarat mutlaknya. 

Benar – benar banyak hal yang dibicarakan dengan teknisi di lab tersebut, mulai dari prosesnya hingga ke tahap kemungkinan hidup dari tanaman yang dilakukan kultur jaringan. Bedanya apa dengan pembibitan menggunakan biji? Bedanya tentu terletak pada kemungkinan hidupnya dan kuantitasnya. Jika satu biji tanaman anggrek, hanya bisa menghasilkan satu bibit maka dengan kultur jaringan bisa menghasilkan ratusan hingga ribuan bibit hanya dari beberapa centimeter bagian tanaman saja. Tidak hanya anggrek, tetapi vanili hingga tembakau dikembangkan juga di lab ini. 



Sekilas Tentang Politeknik Negeri Jember

Dengan melihat langsung proses pembibitan hingga proses panen dari semua TeFa ini, sebuah keyakin bahwa bahwa tidak salah jika “Politeknik Negeri Jember” meraih penghargaan sebagai salah satu perguruan tinggi vokasi terbaik di Indonesia. Tentunya ini sejalan dengan visinya untuk meningkatkan pendidikan terapan yang inovatif dan berdaya saing, mengembangkan kerjasama tingkat nasional maupun internasional, meningkatkan penelitian terapan, pengabdian kepada masyarakat dan kewirausahaan untuk menghasilkan nilai tambah produksi inovasi, dan tentunya mewujudkan tata kelola Polije yang lebih baik dalam rangka reformasi birokrasi (Good Polije Govermance). 

Jika di kilas balik, maka Politeknik Negeri Jember awal berdirinya dimulai adanya program pemerintah untuk mengembangkan pendidikan politeknik di Indonesia pada tahun 1980. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 30 Tahun 1990 bahwa politeknik merupakan salah satu perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan profesional harus terpisah dan berdiri sendiri, maka setelah melalui tahapan-tahapan beberapa politeknik yang tergabung dengan universitas induknya memisahkan diri, demikian juga dengan Politeknik Negeri Jember mempersoleh kemandirian berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 234/O/1998 tanggal 21 September 1998

Dan sekadar Informasi bahwa Politeknik Negeri Jember adalah Perguruan tinggi vokasi yang memiliki lebih dari 24 program studi baik jenjang Diploma III, Sarja Terapan dan Maguster Terapan serta sudah ada kampus 2 di Bodowoso serta kelas International bekerja sama dengan Management and Science Malaysia dan Changzhou Institute of Mechatronic Technology China. 

Oh ya, untuk Teaching Factory sebenarnya tidak hanya 5 TeFa seperti yang tak sebutkan diatas, masih ada 17 TeFa lainnya diantaranya adalah TeFa Bakery and Coffee, TeFa Feedlot, TeFa Kuliner, TeFa Bunga Potong& Kebun Inovasi Polije, TeFa Pakan Ternak, Tefa Seed Center, TeFa Broiler Close House, TeFa Laboratorium Analisis, TeFa Minuman Kemasan, TeFa Canning, TeFa Jamur, TeFa Beras Sehat Polije, TeFa Multimedia, TeFa Produksi Software, TeFa Data Center, TeFa IoT & Embedded System, TeFa Alsintan, TeFa Rotografur dan TeFa Nutrution Care Center. Sebagian besar TeFa ini sudah memiliki Nilai Tahap Kesiapan Teknologi dan telah bekerja sama atau kemitraan dengan banyak industry, dunia usaha dan dunia kerja (IDUKA) ternama di Indonesia. 


Jadi Bagaimana? Sudah punya pilihan untuk melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi Vokasi?

Campus Visit Polije 2020

Ilham Sadli Seorang Travel blogger sekaligus freelance Writer yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena Cabang Jember sejak 2014, suka menulis puisi dan kadang terlalu nyaman dengan menulis kisah seseorang.

24 Komentar untuk "Teaching Factory POLIJE Sebagai Solusi Pertanian Masa Depan"

  1. Aku juga baru ngeh kampus vokasi sekeren ini, yg ga kuliah disana aja jd ketagihan kesana ��

    BalasHapus
  2. Keren mas il, melonnya bikin susah move on. Alias manis banget. Duh kapan - kapan pengen kesana lagi. Hahahaha.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Aku baru tahu apa yang disebut vokasi ini, jadi lebih ke ilmu praktis yang bisa langsung diterapkan dan jadi keahlian mahasiswa ya..baguuus..apalagi tempat prakteknya seperti ini kita terjun langsung nggak hanya teori...

    BalasHapus
  5. aku kira tadi berbau2 hukum gitu. itu advokasi!
    jadi puter balik, baca lagi. oh, ternyata kuliah alam. kesimpulanku sih!

    BalasHapus
  6. Semoga makin maju nih sekolah vokasi. Di LN mah udh diarahkan sejak SMP, dan ada psikotesnya, siapa yg bisa akademisi ato vokasi. Gajinya ya setara. TeFa-nya banyak banget pilihannya, dan semuanya praktikal, bisa wirausaha pula. Keren-keren...Btw...kepo ama goodybagnya nih...

    BalasHapus
  7. Duh kebun inovasinya seger bnget, serasa kembali ke alam lihat foto kak Ilham. Polije semoga makin sukses ya, pendidikan Vokasi-nya sangat bagus nih membuat kita belajar praktek lebih banyak.

    BalasHapus
  8. Oh ternyata polije jurusannya lebih ke pertanian ya? Kalo polinema teknik sama tata niaga. Konsepnya sama banyak prakteknya

    BalasHapus
  9. Semoga banyak lagi kampus-kampus di Indonesia yang menerapkan pendidikan vokasi seperti Polije ini. Terutama yang membimbing tentang pertanian karena sektor ini adalah sektor yang terpenting dari seluruh sektor lainnya. Negara kita tidak boleh lemah dalam bidang pertanian agar mampu berdiri sendiri memenuhi kebutuhan hidup dalam negeri dan tidak bergantung kepada impor. Akan sangat berbahaya bagi keutuhan dan kedaulatan negeri jika sektor pangan dan pertanian saja mengandalkan impor.

    BalasHapus
  10. Baru tau ni tentang vokasi polije.

    BalasHapus
  11. Semoga ke depannya makin banyak alumninya yg mengembangkan pertanian modern, sekarang petani makin sedikit soalnya

    BalasHapus
  12. Lengkap banget ya teaching factory yang ada di polije ini, terutama di bidang pertanian. Memang sangat pas dan diperlukan dalam pendidikan vokasi yang porsi praktiknya lebih banyak dibanding teorinya

    BalasHapus
  13. Wah hebat Polije ya ada teaching factorynya. Di daerah saya bisa juga tuh diadakan Polimed TeFa Jeruk Medan, hehe... Setuju banget penguatan pendidikan vokasi seperti ini karena market dalam negeri untuk hasil panennya sangat besar

    BalasHapus
  14. Anak2 sekolah alam kayaknya sudah terbiasa dg 'sistem' pendidikan vokasi, karena mereka tidak hanya belajar teori semata, tapi seringnya praktik, bahkan 70 % nya kurikulum sekolah alam itu praktik.

    Dg adanya Polije ini, mudah2an bs jadi referensi utk anak2 bangsa khususnya yg terbiasa dg kurikulum vokasi utk melanjutkan studi di sini,

    Keren Polije, terima kasih ulasannya kak ilham 😇

    BalasHapus
  15. Semoga Vokasi Polije ini bisa jadi role model untuk politeknik lainnya.
    Ide Teaching factorynya patut diacungi jempol. Semoga semakin banyak yang seperti ini. Tidak mustahil ke depannya bisa melahirkan lulusan yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan di bidang Agraria.

    BalasHapus
  16. Iya aku pernah berpikiran hal sama, gimana kalo semua pengen jadi pengusaha, gak ada yg mau jadi petani, tapi aku yakin skrg profesi petani dilirik loh, jadi petani juga hisa kece, keren 👏 btw kok jadi pengen ambil pendidikan vokasi juga hehe

    BalasHapus
  17. Wih keren banget ini inovasinya
    Benarbenar petani modern. Bertani di lahan terbatas gak membuat hasilnya ikut terbatas, malah bisa banyak gitu ya panennya. Kereeeeen

    BalasHapus
  18. Keren-keren ini teaching factory-nya, memberi bukti bahwa bertani itu keren dan bisa modern

    BalasHapus
  19. Aku bagian panen aja deh. Tapi perlu banget banyak orang yang smart ngurusin pertanian agar hasilnya juga bagus

    BalasHapus
  20. Kebun inovasi yang dikembangkan oleh Politeknik Negeri Jember semoga menginspirasi kampus-kampus yang ada di indonesia. Pertanian indonesia akan semakin maju jika hal serupa dilakukan kampus-kampus di setiap daerah di di indonesia

    BalasHapus
  21. Benar-benar menginspirasi.

    BalasHapus
  22. Oh baru tahu nih ttg vokasi, semacam SMK-nya S1 ya. Ada banyak tefa bagus yang bisa menjadi pilihan di Polije ya. Keren.

    BalasHapus
  23. Keren ya kak sekolah vokasi, 60 % praktek. Ini baru ya kak, dulu waktu aku kuliah belum pernah dengan istilah vokasi, atau aku yang kupeng. Kurang pengetahuan.

    BalasHapus
Silahkan tinggalkan komentar, jangan lupa follow twitter @blogsadli, Instagram @ilhamsadli atau subscribe email anda untuk mendapatkan update terbaru. Terimakasih sudah berkunjung

Iklan Atas Artikel