[Sebuah Jurnal] Mendaki Gunung : Antara Mengikuti Tren dan Keselamatan Diri

Ilhamsadli.com,- Ini bukan apa-apa, hanya sebuah kisah dimana saya akan menceritakan pengalaman pertama mendaki gunung, bukan karena mengikuti tren atau apa? Tetapi memang karena ada kegiatan bersama teman-teman satu angkatan kuliah. Oh ya, by the way saya adalah seorang blogger yang sekarang suka traveling tetapi berlatar belakang teknik, tepatnya teknik elektro di Universitas Jember. 

Akhir-akhir ini, saya kembali merindukan suasana itu dimana bisa menikmati keindahan dari puncak. Terlebih lagi sensasi ketika berada di puncak lalu terkena hembusan angin, atau dinginnya suasana malam, atau bahkan makan bersama dengan api unggun sebagai penerangan. Kadang juga, ada yang membawa gitar ketika berada di gunung, disanalah kebersamaan itu benar-benar terasa karena menyanyi bersama meskipun suara tidak terlalu menarik untuk didengar.
[Sebuah Jurnal] Mendaki Gunung : Antara Mengikuti Tren dan Keselamatan Diri

Mendaki Gunung : Antara Mengikuti Tren dan Keselamatan Diri

Pengalam pertama kali naik gunung itu sekitar tahun 2015, dimana ketika itu masih belum sebanyak sekarang orang yang melakukan foto-foto di pegunungan. Dahulu, ketika di zaman itu masih banyak yang lebih memilih menikmati suasana alamnya daripada mereka yang berburu konten. Saya masih ingat kalau gunung yang pertama kali saya daki adalah Taman Wisata Alam Kawah Ijen. 

Fenomena Berburu Konten Instagramable Saat Mendaki Gunung

Beberapa tahun kebelakang, jika diperhatikan akan ditemukan banyak sekali para selebgram atau pengguna instagram sangat memperhatikan kerapian dan keindahan feed instagramnya. Mereka rela berburu konten ke pantai atau bahkan mendaki gunung hanya untuk mendapatkan konten instagramable. Tetapi fenomena ini kemudian berkembang sekarang.

Feed instagram sudah sebagain besar berisi tentang foto-foto saat traveling ke suatu tempat wisata, baik itu pantai atau bahkan gunung. Mendaki gunung khususnya sudah menjadi hal yang paling banyak dilakukan sekarang ini, meskipun memang gunungnya tidak terlalu tinggi. Tetapi selalu ada yang disayangkan ketika mereka yang berburu konten ini tidak memperhatikan bagaimana mendaki gunung yang benar. 

Banyak yang otaknya hanya berisi tentang "bagaimana mendapatkan konten yang bagus", sehingga kadang banyak diantara mereka yang mengabaikan mengenai keselamatan. Dan ini menjadi sebuah musibah yang harus diperhatikan. Ada lagi yang selalu menjadi masalah adalah para pendaki yang meninggalkan sampahnya di gunung, mereka mengaku pecinta alam tetapi merusak alam. 

Entahlah...

Mungkin mereka belum mengerti mengenai semboyan seorang pendaki. Ada semboyan abadi bagi para pendaki, yaitu (1) Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar; (2) Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak; (3) Jangan membunuh sesuatu kecuali waktu. Jadi benar-benar tidak melakukan kesalahan sekecil apapun.
[Sebuah Jurnal] Mendaki Gunung : Antara Mengikuti Tren dan Keselamatan Diri

Kasus Kecelakaan Saat Mendaki Gunung

Saya dulu ketika mendaki karena memang baru awal, jadinya benar-benar belum mempersiapkan perlengkapan dan barang-barang untuk mendaki gunung. Karena memang kali pertama mendaki gunung, dan belum terfikirkan mengenai kecelakaan saat mendaki gunung. Tetapi semakin dewasa, sekarang ini saya menyesal dahulu tidak mempersiapkan segala sesuatunya ketika mendaki gunung.

Saya masih ingat, dahulu itu benar-benar tidak safety. Tidak ada mantel, tidak ada sepatu gunung atau sandal gunung, tidak ada ransel standar, tidak ada jaket yang tebal, tidak ada tenda, apalagi matras. Jadi, ketika waktu itu benar-benar dalam keadaan tidak safety samasekali. Bersyukur ketika itu tidak terjadi kecelakaan ketika mendaki atau ketika sudah berada di puncak. Sepatu menggunakan sepatu kads yang alasanya halus, sungguh jika diingat kembali sangat menyesal.

Karena setelah beberapa kali mendaki, akhirnya belajar untuk mulai mementingkan keselamatan diri. Karena banyak sekali terjadi kecelakaan disebabkan oleh keteledoran seseorang dalam mempersiapkan segala sesutaunya, termasuk barang - barang yang wajib dibawa ketika mendaki gunung. Karena mendaki bukan sekadar menikmati keindahan alam, mengikuti tren masa kini, atau berburu konten tetapi tentang menjaga keselamatan alam dan diri.

Mereka yang pemburu konten pendakian ini kadang tidak memperhatika barang barang atau perlengkapan yang wajib dibawa. Bukan perkara ribet atau tidaknya, tetapi tentang bagaiaman membuat diri menjadi aman dan nyaman ketika mendaki gunung. Suka miris begitu, ketika saya melihat para selebgram atau user instagram berfoto di gunung sedangkan dia tidak menggunakan perlengkapan wajib. Sepatu tidak safety, jaket tipis, dan seterusnya. 

Saya pernah menulis mengenai rekomendasi barang-barang yang wajib dibawa ketika akan mendaki gunung. Semoga bisa membantu anda menentukan pilihan dan mulai berfikir untuk mengutamakan keselamatan terlebih dahulu sebelum memikirkan mengenai konten media sosial yang sebatas pencitraan. 

Ilham Sadli Seorang Travel blogger sekaligus freelance Writer yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena Cabang Jember sejak 2014, suka menulis puisi dan kadang terlalu nyaman dengan menulis kisah seseorang.

18 Responses to "[Sebuah Jurnal] Mendaki Gunung : Antara Mengikuti Tren dan Keselamatan Diri"

  1. Belum pernah naik gunung nih. Pengen nyoba tapiiii pengennya ramean dan gunungnya yang landai aja dulu. Haha

    ReplyDelete
  2. aku maunya naik gunung nanti, di surga aja. biar gak capek. gyahahaa

    ReplyDelete
  3. Enaknya bisa mendaki. Saya seumur hidup gak pernah. Hehehe

    Andai saja ada kesempatan, pengen menikmatin aja. Gak pengen foto-foto. Hehe

    ReplyDelete
  4. Aku tertarik sama artikel ini karena merasa sangat related. Bener memang, mendaki gunung itu sekarang udah jadi tren dan orang rela demi konten. Aku sih ga masalah soal itu ya, soalnya aku juga sering pake foto2 di gunung biar feed bagus. Hahaha. Nah soal keselamatan ini yang sering banget diabaikan terutama buat yang pemula. Semoga makin banyak yang sadar ya bahwa sholat dan keselamatan saat mendaki gunung itu numero uno.. Hehe.

    ReplyDelete
  5. Harus persiapan yg mantap broo.. memang sekarang ini lagi banyak banget yg sekadar ngikutin trend si yaa

    ReplyDelete
  6. pas jaman sma saya ikut repala, tujuannya biar bs ikutan daki gunung. eh gak dibolehin mama. sampai sekarang pun belum terlaksana. bulan ikuti tren tapi murni karena penasaran di gunung itu ada apa aja

    ReplyDelete
  7. Sampai sekarang aku hanya pernah naik gunung sebanyak dua kali, satu Prau satu Slamet. Yang Prau pertama kali dan sedih banget karena nheliat banyak sampah, dan seakan nggak ada maknanya naik gunuung :'((

    ReplyDelete
  8. Sekarang memang masih banyak yang nggak perhatikan keselamatan. Pernah pas lagi ke curup liat rombongan anak SMP yang mau daki gunung kaba. Banyak yang cuma pake sendal doang dan tanpa barang-barang yang memadai.

    Mungkin hal terpenting yang dibawa adalah hp dan powerbank :(

    ReplyDelete
  9. Sampai usia 20an ini, aku belum pernah naik gunung. Karena orangtua ga ngasih izin dan akunya yang memang kurang berminat sama tipe traveling kayak naik gunung ini.
    Btw setuju banget sama artikel ini. Saat ini banyak orang-orang yang ikut mendaki gunung cuma buat konten dan ikut-ikutan doang, tapi mereka kurang memerhatikan keselamatan diri. Padahal mendaki gunung bukan hal yang sepele, banyak hal yang harus diperhatikan untuk keselamatan diri.

    ReplyDelete
  10. Makin hari naik gunung emang jadi tren teelebih lagi di kalangan millenials yang mau coba2. Bagus sih naik gunung ini, selain melatih fisik ya juga melatih mental. Harusnya lebih digalakkan lagi kampanye2 safety saat naik gunung bagi anak2 muda..

    ReplyDelete
  11. Nah, bener nih naik gunung tujuannya seharusnya memang bukan cuma ikut tren atau cari konten cantik untuk mempercantik feed IG aja ya. Apalagi emang udah banyak kasus nih pendaki yang mengalami kecelakaan gara-gara asyik selfie atau foto2 di puncak gunung. So, keselamatan itu lebih penting.

    ReplyDelete
  12. Aku kok nggak teratrik mendaki ya..
    Mgkn aku oramgnya terlalu lemah, hehe

    ReplyDelete
  13. Bukan cuma pendakian sih yang jadi lahan perburuan konten, bahkan ke tempat wisata kadang masih terasa egois, semisal buang sampah suka suka jiwa.

    Setuju deh, kalo naik gunung sebaiknya butuh persiapan matang. Saya yang mentok sampai trekking bukit aja mikir, sesederhana pakai sepatu cantik atau keds cakep tapi alas bawahnya tipis, bisa membahayakan diri juga.

    ReplyDelete
  14. Belum pernah coba sih naik gunung cuman gunung kecil (seperti bukit) di daerah Kalimantan barat. Namun saya naik gunung atau bukit bukan karena saat trending pasti saat stelah tenggelamnya trending haha

    ReplyDelete
  15. Aku suka mendaki kalau diajakin, tapi suka ngos-ngosan dan nggak suka dingin hahaha tapi suka melihat pemandangan dari atas gunung. Perjuangan banget ya mendaki itu. Keren kamu Ham.

    ReplyDelete
  16. Saya pernah sekali mendaki gunung bersama teman-teman. Memang keselamatan harus diperhatikan dengan baik . Dan dipersiapkan dengan matang saat kelak mendaki. Jangan hanya karena konten, lalu mengabaikan keselamatan dan berakibat fatal

    ReplyDelete
  17. Soal 3 hal yang harus dipegang para pendaki gunung bener banget. Suamiku Juga selalu berpesan gitu ke anak istrinya kalau lagi ngajak hiking. Hmm.. jadi kangen gunung nih.. meski biasanya Paling ngecamp doang, nggak kuat kalau sampai puncak hihi.

    ReplyDelete
  18. Wah, malah saya belum pernah ndaki gunung mas, ehehehe

    ReplyDelete
Silahkan tinggalkan komentar, jangan lupa follow twitter @blogsadli, Instagram @ilhamsadli atau subscribe email anda untuk mendapatkan update terbaru. Terimakasih sudah berkunjung

Iklan Atas Artikel