Untuk Siapa Cintamu?

Untuk Siapa Cintamu
Setiap insan manusia sudah pasti memiliki rasa cinta dalam dirinya. Karena pada dasarnya rasa cinta itu ada dan tumbuh subur dalam setiap hati insan manusia. Dan cinta itulah anugerah terindah yang dititipkan Allah pada kita manusia. Cinta membuat manusia menjadi manusia seutuhnya.

Seperti yang pernah saya sampaikan pada artikel sebelumnya berjudul "Sudah Simpan Saja Cintamu", sudah saya paparkan bahwa keberadaan cinta bisa menjadi potensi maksiat dan bisa menjadi potensi ketaatan. Hal ini tergantung bagaimana kita memaknai dan memanage cinta dalam hati. Sungguhlah tidak mudah untuk memanage cinta dalam hati, maka berbahagialah mereka yang mampu memaknai dan memanage cintanya hingga bertemu di ujung penantian dengan tambatan hatinya. 

Lalu Untuk Siapa Sebenarnya Cinta itu?

"Salah seorang diantara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (H.R Bukhari No. 13 dan Muslim No.45)

Hadist ini menjelaskan bahwa sempurnanya iman adalah ketika kita mencinati saudara seiman sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri, dan tentunya cinta yang didasarkan atas kecintaan terhadap Allah SWT.

“Katakanlah: “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (Q.S At-Taubah: 24)

Kecintaan kita akan menjadi potensi taat ketika kesemua cinta itu didasarkan atas cinta kita terhadap Sang Maha Cinta. Oleh karenanya, ketika mencintai seseorang atau sesuatu hendaknya jangan sampai kecintaan kita melebihi cinta pada-Nya.

Salahkah jatuh cinta? Tentu tidak, asalkan tetap pada koridor yang ditetapkan. Karena cinta yang haqiqi hanya ada pada Allah and nothing else. Segala sesuatu akan meninggalkanmu suatu saat, harta akan habis, pakaian akan lapuk dan ketampanan akan sirna sesaat setelah melewati ambang batasnya. 

Ketika ada ketertarikan dan kemudian jatuh cinta terhadap seseorang. Cobalah untuk memperhatikan apa yang membuat hati kian tertarik apakah itu paras, akhlaq, agama atau apanya? Karena ketertarikan hati itu sudah pasti menuntun langkah kita, menyita waktu, perhatian bahkan energi. 

Apabila hati hanya tertarik pada keindahan fana (paras), maka resikonya adalah kekuatan diri akan habis lalu musnah seiring perjalanan kita menuju kematian. Dan yang namanya kematian tidak pernah ada yang tahu kapan, dimana serta dengan siapa kita saat itu. Namun apabila ketertarikan itu pada keindahan yang haqiqi, maka bahagia dan ketenangan jiwa senantiasa akan berada disamping kita serta setia berjalan berdampingan bersama kita. 

Jadi utuk siapa cintamu? Untuk yang fana atau haqiqi? Semua jawabannya ada dalam dirimu. 

Semoga bermanfaat, silahkan komen dan share jika dirasa bermanfaat.
SALAM LITERASI.....

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar, jangan lupa follow twitter @ilhamsadly, Instagram @ilhamsadli atau subscribe email anda untuk mendapatkan update terbaru. Terimakasih sudah berkunjung