Pesan Tanpa Nama

“Kamu Akhwat?? Kok berbaur ma cowok?” pesan singkat itu muncul ketika aku sedang bercanda dengan teman-teman kampusku didepan kelas, pesan singkat yang membuatku terdiam dari tawaku, pesan singkat yang membuatku terbelalak seketika, pesan singkat yang menggelisahkan hati ini dan pesan singkat yang dikirimkan oleh seesorang yang tak kuketahui itu siapa. Aku terdiam, memberhentikan aktivitas didepan kelas, dengan wajah menunduk aku masuk kedalam kelas, meskipun salah satu dari temanku memanggilku aku hanya bisa mengangkat tangan menandakan aku tak apa-apa dan bukan hal penting.
           
AKHWAT! IKHWAN!. Aku bukan membicarakannya dalam artian dalam bahasa arabnya, aku tau jika akhwat itu perempuan dan ikhwan itu laki-laki. Namun di Indonesia artian itu mengalami penyempitan makna. Akhwat itu perempuan, seorang perempuan yang cenderung mengenakan kerudung lebar, baju longgar dan tentunya seorang muslimah sejati, yang menjaga pandangannya, menjaga pergaulannya dan intinya benar-benar seorang muslimah yang mematuhi perintah Allah dan Rasulnya serta menjauhi larangan-Nya, tidak jauh beda dengan seorang ikhwan. Apa aku termasuk dalam criteria seorang Akhwat? Salahnya aku ketika diri ini bangga dengan gelaran “akhwat!” baru kusadari jika aku bukan seorang akhwat sejati, tak ada bedanya aku dengan seorang wanita-wanita yang tak bergabung dalam organisasi keislaman itu. Aku merasa malu jika teringat pesan singkat yang dikirimkan oleh seseorang yang aku tak kenal tadi. Aku gelisah, aku merasa bersalah.
            Satu hari, dua hari, dan tiga hari telah terlewati. Pesan singkat yang mengingatkanku itu terus saja masuk tanpa aku menyuruhnya. pesan singkat yang aku hanya membacanya sekilas lalu menghapusnya. Tak lagi aku menghiraukan pesan singkat yang selalu menerorku itu. Rutinitas yang kujalani seperti biasanya tetap saja sama tak ada perubahan seikitpun, meskipun aku di awal merasa tak nyaman dengan pesan terror itu, namun kini aku telah biasa.
            “Kamu itukan aktivis dakwah, kok berjabat tangan dengan non mahram?” pesan singkat yang baru sampai di ponselku beberapa detik ini. Apa salahnya sih aku berjabat tangan dengan seorang yang bukan mahramku? Yang penting aku tidak nafsu dan pasti dengan berjabat tangan tak kan menimbulkan zina. Ah,, pengirim pesan terror itu sok alim dan sok tak berdosa.
            “Andai kata kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya (HR. Tabrani)” beberapa saat kemudian munculah pesan singkat ini yang membuat hati ini merasa sakit, sakit berulang kali. Tanpa mengeluarkan isi hatikupun dia sepertinya tau apa yang kurasakan. Kucoba untuk menelpon pemilik nomer itu, namun berulang kali tak diangkatnya.
            Meskipun pesan terror itu berulang kali masuk di ponselku, namun aku tetap saja tak bergerak sedikitpun untuk merubah segala perbuatanku.
            Bercanda, berkirim chat dengan lawan jenis masih saja aku lakukan, seringkali jika salah satu ikhwan memuat status di facebook, aku selalu saja berkomentar yang membuat candaan dan tawaan. Pernah suatu ketika aku pernah membaca status dari seorang akhwat yang kubaca membuatu nyengir dan memastikan bahwa dia terlalu fanatic.
            “aku kok jadi gimana gitu ya, ngebaca komentar ikhwan dan akhwat yang ada bercandaanya!” yah, begitulah, seolah-olah status singkat itu ditujukan untukku, dihunuskan kedalam hatiku. Aku jadi berfikir, mungkinkah pembuat status itu adalah akhwat yang menerorku menggunakan pesan singkat yang sering muncul di kotak masukku? Ah, mungkin saja bukan, karena aku tak pernah berhubungan dekat dengan akhwat itu, mungkin sesekali hanya menyapanya jika bertemu.
            Suatu ketika setelah aku mengikuti seminar di Aula, aku bersama teman-teman pulang bersama menuju suatu warung makan dan kami semua makan bersama, mengobrol dan tertawa terkekeh-kekeh. Pesan terror itu lag-lagi muncul tanpa aku memintanya.
            “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya;yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu perbuat (TQS. An-nur ; 30)”
“SESUNGGUHNYA ALLAH MAHA MENGETAHUI APA YANG KAMU PERBUAT!”
            Ah.. kata itu tak lepas-lepas dari benakku.. dengan segera aku membalas pesan singkat itu.
            “mau kamu apa?”
            “aku ingin kamu tetap menjaga iffah mu sebagai muslimah dan menyadari izzahmu sebagai muslimah sejati!” ah,, siapa gerangan seorang pengecut pengirim pesan ini,.
“SESUNGGUHNYA ALLAH MAHA MENGETAHUI APA YANG KAMU PERBUAT!”
            Kata-kata itu lagi-lagi muncul dibenakku, yang membuat makanan dipiringku tak habis kusantap, yang membuat candaanku dengan teman-teman menjadi hambar.
            Dengan segera aku pamit dari kumpulan mereka, dan membayar dikasir. Aku pergi meninggalkan teman-temanku.
“SESUNGGUHNYA ALLAH MAHA MENGETAHUI APA YANG KAMU PERBUAT!”
“aku ingin kamu tetap menjaga iffah mu sebagai muslimah dan menyadari izzahmu sebagai muslimah sejati!”
Apa-apaan ini dipikiranku tak hilang-hilangnya tulisan itu. tulisan yang membuat hati ini begitu teriris.
Ya .. Allah.. ampuni aku,, aku tau.. tapi aku abaikan larangan dan perintahmu…

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar, jangan lupa follow twitter @ilhamsadly, Instagram @ilhamsadli atau subscribe email anda untuk mendapatkan update terbaru. Terimakasih sudah berkunjung