[Cerpen] Jangan Panggil Aku "Ustadz"

Sekali lagi, aku merasa tertampar oleh perkataan Ustadz Salim A Fillah tentang muhasabah. Dalam sebuah majelis beliu berkata "jika kita sudah merasa baik, maka kesimpulan muhasabah kita adalah keliru. Karena muhasabah yang benar adalah merasa diri belum baik, dosa semakin bertambah dan amal masih sedikit". 

Sebuah nasihat yang sederhana memang, tapi ibarat anak panah langsung melesat cepat dan tepat sasaran. Sebuah tamparan keras untukku seorang muslim yang masih awam tentang mualamah. Seorang insan yang terus berproses menjadi lebih baik dari diriku di masa lalu. Dosa yang terus-terusan membayangi setiap sujud, memeras mata hingga berlinang di pipi karena teringat akan dosa diri di masa lampau.

"Wah, kamu ilham yang dulu kan?" Tanya seorang sahabat lama yang kebetulan bertemu di jalan. Belum sempat ku jawab pertanyaan itu, ia lanjut bertanya "Sudah lama balik Lombok ya, kok gak ada kabar" lanjutnya.

"Iya. Alhamdulillah sudah dua minggu di rumah. Bukannya gak sempat memberi kabar, tapi aku sibuk kerja. Bayangkan saja, pagi sampai sorenya jualan dan malam serta sebeum subuh jadi content writer" jawabku sontak.

"Wah, orang sibuk ya," goda sahabatku itu.

"Tidak terlalu kang (sebutan akrab), insyaAllah masih bisa curi waktu kalau sekedar mau kumpul-kumpul," balasku lagi.

"Jenggotmu panjang gitu, udah cocok buat dipanggil ustadz" sahutnya lagi.

"Ah, jangan gitu kang. Jadi Ustadz itu tanggung jawabnya berat, aku gak akan kuat. Biarkan mereka yang mampu saja" jawabku sedikit meniru Dilan 1990.

"Dasar korban film" sambil tertawa bersama.

Ternyata tidak mudah untuk menjaga sunah ya, walaupun itu hanya sekedar merawat jenggot. Tidak hanya sahabat yang bergurau tentang demikian, warga kampung di sekitar rumah sering berucap yang sama pula. 

"Dik, tahun depan kamu masuk bursa imam shalat tarawih bulan Ramadhan berikutnya", ucap salah seorang petugas ta'mir Mushala.

"Astagfirullah, jangan saya kang. Masih ada yang lain, tidak elok rasanya ketika saya yang masih sangat awam menjadi imam di mushala ini kang" jawabku dengan cepat.

"Tapi penampilan serta kebiasaanmu sudah dirasa pantas untuk ukuran para pemuda dik. Kamu jadi Ustadz muda di kampung kita ini" menyampaikan pendapatnya.
Aku terdiam serta berkata dalam hati. 

"Duhai diri, adakah dirimu pantas menjadi imam bagi mereka-mereka yang lebih dewasa dan lebih banyak pengetahuan agamanya? Apakah iya, engkau yang bukan siapa-siapa diberikan posisi terhormat, sedangkan diri masih tidak bermartabat. Menjadi ustadz, maka bersiaplah membimbing banyak orang, sedangkan membimbing diri saja masih belum mampu."

Terkadang aku berkata, jangan panggil aku "Ustadz" karena sunggu itu berat. Tanggung jawab yang dipikul hingga segala apa yang berkaitan dengannya. Jangan panggil aku "ustadz", sungguh tak elok rasanya ketika seorang yang berlumur dosa kemudian dianggap sebagai seorang yang mulia. Jangan panggil aku "Ustadz ", karena aku hanya insan yang tidak tahu apa-apa. Aku berjenggot bukan karena aku mengerti tentang agama, tetapi aku berharap dengan sunah yang dijalani menjadi perisai dari kesalahan. Aku berpenampilan syar'i bukan karena mode, tetapi berharap dengan penampilan tersebut menjadi benteng dari menjaga diri dari dosa. Sungguh, aku terlihat baik hanya karena baiknya Allah menutup aib ini. Andaikan berbau, maka sungguh sangat menyengat dosa tersebut.

Aku hanya seorang blogger yang banyak membaca ilmu agama untuk kepentingan syi'ar. Aku berdakwah melalui tulisan, karena tidak mampu berbicara di depan banyak orang.
#LombaBlogFLP #BloggerFLP

9 comments:

  1. Hehe jadi grogi yaa dipanggil ustaz..

    ReplyDelete
  2. Wah, ada ustad nih

    ReplyDelete
  3. Sebutan demikian semoga memotivasi untuk terus #jadibaik yaa. Aamiiin

    ReplyDelete
  4. udah cocok nih jadi Ustadz ^^
    semoga suatu saat kak Sadli menjadi Ustadz panutan umat ya.. amiin
    semangat menebar kebaikan....

    ReplyDelete
  5. Semoga panggilan ustadz menjadi alarm bagi diri sendiri agar levih baik dan jd teladan masyarakat sekitar.

    ReplyDelete
  6. Ini cerpen nyata?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kang, dari pengalaman sendiri di kampung halaman

      Delete
  7. aku pernah mengalami kondisi begini hehe....baru ngisi taklim dibilang ustadzah

    ReplyDelete
  8. baca cerpen ini jadi berkaca sendiri .

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar, jangan lupa follow twitter @ilhamsadly, Instagram @ilhamsadli atau subscribe email anda untuk mendapatkan update terbaru. Terimakasih sudah berkunjung