Dari Bandung Untuk Dunia

Blogsadli,- Forum Lingkar Pena adalah organisasi yang mengorganisir penulis-penulis hebat diseluruh Nusantara bahkan Dunia. Sederet nama-nama hebat lahir dari organisasi pengemban dakwah pena ini. Tidak hanya itu, bahkan mereka mengangkat nama organisasi Forum Lingkar Pena hingga menggema di seluruh dunia. Tentunya hal itu tidak lepas dari kerja keras para pendiri, pengurus pusat, dan pengurus wilayah hingga ke bagian cabang dan ranting. Sederet nama yang mungkin sudah tidak asing lagi seperti bunda Helvy Tiana Rossa, bunda Sinta Yudisia, bunda Asma Nadia, Teh Imun, Afifah Afrah, Kang Abik dan sederet nama penulis hebat lainnya adalah jebolan Forum Lingkar Pena. Beliau-beliau menyatukan visi dan misi untuk mencerahkan dan menggalangkan dakwah melalui tulisan.

Hingga saat ini baru terlahir empat generasi selama kurang lebih 20 tahun setelah berdirinya organisasi Forum Lingkar Pena. Tanggal 3-5 November kemarin adalah pemaparan sejauh mana program memajukan umat disampaikan oleh BPP (Badan Penguru Pusat) dibawah kepemimpian bunda Sinta Yudisia. Kami lebih menyebutnya sebagai hajatan para penulis nusantara, bukan musyawarah nasional. Karena ketika itu, yang banyak dilakukan adalah saling bertukar fikiran demik kemajuan organisasi. Dan pastinya untuk tujuan regenerasi dan melahirkan penulis-penulis berbakat diseluruh Nusantara dan menyatukan visi dibawah payung Forum Lingkar Pena.

Dari Bandung Untuk Dunia

Tiga hari itu adalah penentu bagaimana organisasi Forum Lingkar Pena kedepannya. Apakah organisasi ini akan berjalan ditempat atau melebarkan sayap-sayapnya. Namun, sebagian besar lebih memilih untuk melebarkan sayapnya dengan menjalin kerjasama dengan beberapa pihak demi kemakmuran anggota. Misalnya saja, kemarin sempat ada program menggalakkan tulisan di UC News, atau yang paling terbaru adalah bekerjasama dengan Forum Kaskus. Hal ini bertujuan untuk mengangkat kembali semangat-semangat para penulis nusantara, bahwa menjadi penulis itu harus tetap berkarya melalui media apapun asalkan tetap dalam koridornya. Maka ketika itu, Kota Bandung menjadi saksi bahwa kami organisasi Forum Lingkar Pena siap melahirkan bintang-bintang dengan visi mencerahkan, bukan menjatuhkan. 

Bandung menjadi tempat hajatan penulis-penulis Nusantara, dimana penulis dari sabang sampai merauke berkumpul untuk menyatukan visi dan membangun organisasi bersama. Ketika itu teman-teman FLP Jabar menjadi tuan rumahnya, sungguh banyak kekaguman kami berikan pada para tuan rumah. Dengan segala loyalitas dan waktu yang dimiliki bersdia direpotkan oleh sekian banyak peserta dari seluruh nusantara, tidak terbayang bagaiman susah dan repotnya meng-handle begitu banyak peserta dengan jumlah panitia yang minim. Tetapi begitulah hebatnya para tuan rumah menjamu tamunya hingga yang nampak hanyalah sebuah garis senyum simetris, bukan sebuah kepenatan. Tidak hanya para tuan rumah yang punya keramahan, kota Bandung juga punya keramahan dengan segala pernak-perniknya dan menambah kagum kami para peserta waktu itu. 

Penentu Masa Depan

Tidak bisa dipungkiri bahwa selama tiga hari itu adalah hari penentu masa depan sebuah organisasi. Para peserta hajatan mengusulkan siapa yang akan menjadi penentu masa depan dakwah pena ini. Semua berharap hanya akan ada satu suara dan satu nama yang muncul, tetapi muncul beberapa nama yang tidak asing bagi kami para peserta. Tidak asing karena sebenarnya kami ini adalah satu keluarga, yakni keluarga besar Forum Lingkar Pena. Mereka yang diusung menjadi "the next leader" setelah masa kepengurusan bunda Sinta Yudisia memang memiliki potensi-potensi luar biasa. Tetapi kembali lagi bahwa pemimpin hanyalah satu orang saja.

Karena sudah ditemukan beberapa nama, kemudian diputuskan untuk menentukan siapa "the next leader" dengan jalan footing. Sebelumnya tentu sudah disampaikan apa-apa gerakan dan gebrakan baru ketika nanti terpilih menjadi "the next leader". Setiap bait yang disampaikan para calon ini menarik perhatian setiap orang, lalu sempat terfikir bagaimana megahnya FLP jika ketiga program tersebut dijalankan bersama-sama. 

Siapa yang akan menduga kalau seorang Afifah Afra yang terpilih menjadi penentu masa depan. Seseorang yang bersahaja, berpengalaman dalam memimpin indiva sebagai CEO. Sudah jauh mengerti bagaimana FLP mulai dulu hingga sekarang, dan hal itu menjadi salah satu modal utama untuk bisa menentukan masa depan FLP menjadi lebih baik. Semoga pilihan semua menjadi pilihan yang terbaik. Dan satu pesan dari salah satu peserta yakni mengutip dari kisah Umar bin Khattab yakni Pemimpin adalah orang yang dahulu lapar. Kita doakan bersama semoga sang Srikandi terus menjadikan FLP menjadi lebih baik dan siap melebarkan sayapnya lalu terbang tinggi bersama angin.

Sebenarnya ada banyak hal yang bisa disampaikan dalam pembahasan ini, tetapi cukup demikian bahasan sederhana dan ringan dari blogsadli. Semoga sahabat tidak bosan membaca.

Terimakasih...
Salam Literasi...

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar, jangan lupa follow twitter @ilhamsadly, Instagram @ilhamsadli atau subscribe email anda untuk mendapatkan update terbaru. Terimakasih sudah berkunjung