Karena Menulis Itu Soal Komitmen

Berapa banyak diantara kita yang bermimpi menjadi penulis besar dengan nama tersusun rapi diatara barisan buku-buku. Akan tetapi, tidak sedikit dari kita yang kemudian membiarkan mimpinya terbang melayang seperti buih diantara hembusan angin. Kita punya keinginan yang tinggi tetapi tidak dengan tindakan. Ya, bermimpi besar tidak keliru, hanya saja bermimpi besar tetapi usaha kecil tidak akan membuahkan hasil. Karena seperti apa proses menjemput mimpi yang dilakukan akan mencerminakan seperti apa hasilnya dan hasil tidak pernah jauh dari proses. 


Seorang penulis besar dulunya juga seorang penulis pemula, namuan yang membuatnya bertahan hingga terus tumbuh dan berkembang sampai menjadi penulis sukses adalah karena komitmennya. Pada pembahasan sebelumnya, sudah kita bahas mengenai ketakutan-ketakutan yang dialami oleh seorang penulis pemula, bisa sahabat baca lagi di blog ini.  Beberapa ketakutan tersebut diantaranya takut tulisannya tidak bagus, tidak diterima masyarakat, mendapat respon negatif dan mendapatkan kritik. 

Kalau sahabat pernah mendengar maupun membaca kabar mengenai mundurnya seorang "Tere Liye" penulis sukses dengan buku-bukunya yang rata-rata best seller dari menerbitkan buku pada penerbit mayor. Sahabat pasti tahu sebab kemunduran seorang Tere Liye. Ya, tidak lain dan tidak bukan adalah bentuk protes dari seorang penulis yang merasa tercekik dengan pajak penghasilan seorang penulis. Bukan hanya seorang Tere Liye yang berbicara persoalan pajak penulis, Isa Alamsyah, Dee Lestari juga angkat bicara. 

Pembicaraan seperti ini juga menimbulkan ketakutan baru bagi seorang penulis pemula, hingga tidak sedikit diantara mereka yang memilih untuk mengubur mimpinya dalam-dalam. Tetapi berhentinya seorang Tere Liye dalam menerbitkan buku tidak membuatnya berdiam diri dan tidak berkarya lagi. Tidak, dalam penjelasannya di Fanspagenya Tere Liye mengungkapkan bahwa ia akan tetap membagikan tulisannya namun tidak melalui penerbit. 

Menulis itu soal komitmen. Jadi apapun permasalahan yang ada dalam dunia kepenulisan, jika kita sudah berkomitmen untuk berkarya dalam dunia literasi tentulah masalah demikian tidak akan menjadi sebuah problema. Karena ketika kita bermimpi besar, kita haruslah siap untuk menghadapi rintangan yang tidak mudah. Sebagai penulis pemula yang baru-baru kemarin memulai karir dalam literasi, bahkan tulisannya masih abal-abal seperti saya ini tentulah harus banyak belajar. Dan sekolahnya seorang penulis itu adalah membaca. 

Jika ingin tetap berkarya di jalan literasi, tentulah kita harus menanamkan tekad yang kuat. Selain itu tentulah dibutuhkan sebuah komitmen, karena sebuah mimpi tanpa komitmen itu seperti ruang kosong. Seorang pemimpi besar harus diseimbangi dengan menanamkan komitemen yang besar pula. Jika hingga saat ini masih bermalas-malasan, masih belum maksimal belajar, merasa diri sudah cukup bisa, merasa sungkan ketika suatu waktu tidak menulis lalu ingin kembali menulis. Sungguh seketika itu, mimpimu menjadi seorang penulis besar sudah mulai buram, karena seorang penulis adalah seseorang yang punya komitmen.

Buang jauh rasa sungkan, rasa cukup dan rasa malas belajar. Jangan mau kemampuan kita hanya rata-rata, bahkan dibawah rata-rata. 

Mari tanamkan ini dalam diri kita 
"Penulis itu keren dan penulis itu aku"

Terimakasih sudah bersedia membaca, jika dirasa bermanfaat silahkan sahabat share dan komentar dibawah. Sekian dulu pembahasan singkat dari saya. 

Salam Literasi... 

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar, jangan lupa follow twitter @ilhamsadly, Instagram @ilhamsadli atau subscribe email anda untuk mendapatkan update terbaru. Terimakasih sudah berkunjung