Jangan Panggil Aku Penulis

Jangan panggil aku penulis. Karena aku belum mampu menuliskan kisah-kisahku sendiri dalam sebuah buku. Aku hanya bisa menjadi pembaca kisah orang lain, namun kisahku masih belum pernah ada orang yang tahu. Karena kisahku bukanlah kisah seorang penulis atau seorang yang inspiratif, kisahku hanyalah kisah seorang musafir cinta ditengah teriknya padang pasir. Selayaknya buih yang terombang-ambing tertiup hembusan angin.

Jangan panggil aku penulis. Karena aku menulis hanya karena aku tak mampu berbicara seperti mereka yang pintar mengolah bahasa hingga namanya mendunia. Ya, aku memang bukan seorang penulis berbakat hingga karya-karyanya tersebar luas disetiap pelosok tanah air. Aku hanyalah penyusun kata menjadi kalimat, lalu paragraf hingga kini bisa terbaca olehmu. Bukan, bukan karena pandai merangkai kata, hanya saja kata demi kata dirajut sepenuh hati berharap akan sampai pada hati. 

Jangan panggil aku penulis. Karena aku hanya seorang pemimpi besar namun enggan bangun dari mimpi. Karena aku hanya berambisi besar namun sulit untuk bertindak. Aku hanya punya mimpi menjadi penulis namun aku takut tulisanku tidak bagus, takut tulisanku tidak diterima di masyarakat dan takut menuai kritik pedas. Aku hanya berambisi menjadi penulis namun masih berdiam diri tanpa berani mengambil langkah pasti.

Jangan panggil aku penulis. Aku menulis bukan karena kehausan jiwa tetapi kebutuhan finansial. Hingga pada suatu waktu harus membunuh karakter pembacaku, bukan malah membangun karakternya. Ketika menulis jiwa tetap kosong bahkan tulisanpun menjadi tak bernyawa tetapi kantong tak lagi kosong. 

Jangan panggil aku penulis. Aku menulis hanya ketika mood sedang naik, namun ketika sedang down malah bisa menghentikan gerak tangan untuk mengajak sang pena berdansa. Moody menjadi persoalan dalam diriku, hingga akhirnya hasil tulisanpun bergantung dengan moodku saat itu. Ketika down, tidak ada satu lembar, bahkan tak ada satu kalimatpun yang terbesit dalam benak. Seolah semunya hilang, sirna dan tak berbekas. Padahal aku tahu bahwa seorang penulis haruslah mampu menjinakka moodnya. 

Jangan panggil aku seorang penulis, karena aku tak mampu berkarya seperti mereka berkarya demi bangsa, agama dan mimpinya. Jangan panggil aku seorang penulis, tetapi panggillah aku seorang pemimpi yang malas enggan bangun dari mimpi. Jangan panggil aku penulis, karena sebutan itu terlalu megah untuk seorang sepertiku. 

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar, jangan lupa follow twitter @ilhamsadly, Instagram @ilhamsadli atau subscribe email anda untuk mendapatkan update terbaru. Terimakasih sudah berkunjung