Iri Hati dan Solusinya

"Jangan pernah sesekali kita berkhayal untuk mengharapkan kemuliaan seseorang satu dengan yang lain, karena setiap manusia diciptakan dengan segala keistimewaan dalam dirinya"

Iri bisa diartikan sebagai dengki, atau dalam bahasa arab disebutkan sebagai (hasad). Secara gamblang bisa diartikan sebagai emosi yang muncul dalam diri seseorang karena disebabkan merasa tidak memiliki keunggulan atau memandang orang lain lebih unggul darinya. Entah itu persoalan paras, harta, rezeki, pasangan, atau sejenisnya yang memancing rasa ingin unggul. Ada yang terkadang salah menafsirkan antara iri dengan cemburu, terutama dalam urusan berumah  tangga misalnya. 

Dalam Islam, sifat iri hati atau hasad tergolong dalam sifat tercela. Selain dapat merusak keimanan juga secara tidak langsung menggerogoti amal yang kita miliki. Maka, tidak aneh jika seseorang dengan perasaan dengki, iri hati atau hasad biasanya sulit menemukan ketenangan hidup. Hal ini dikarenakan sifat dalam diri yang merasa ingin lebih dari orang lain.

Tetapi bagaimana dengan iri hati yang sifatnya positif kak?
Nah, sebelum kita membahas bagaimana solusinya, mari kita membahas terlebih dahulu mengenai jenis iri hati. Iri hati ada dua jenis, yang sifatnya negatif dan sifatnya positif.

1. Iri Hati yang Sifatnya Negatif dan Dilarang
Iri hati yang sifatnya negatif dan dilarang kita kerucutkan menjadi 2 contoh demikian.

Pertama, iri hati yang terekspresikan secara nyata. istilah sederhanana untuk orang seperti ini adalah orang yang suka menari diatas penderitaan orang lain. Misalkan kita terkena musibah (semoga tidak), mereka bukan membantu tetapi malah menjadikannya sebagai sebuah lelucon. Iri hati seperti ini bisa kita lihat dalam Al-Quran surat Al-Imran ayat 120.

"Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati. Tetapi jika kamu mendapatkan bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan." (Q.S Al-Imran : 120)

Kedua, iri hati yang bila ingin merasa lebih daripada orang lain, biasanya ada ungkapan "emang dia aja yang bisa, aku juga bisa". Mengharapkan kebaikan dalam diri orang lain berpihak padanya kemudian kebaikan itu tidak berpihak pada orang tersebut. Sifat iri seperti ini dijelaskan dala Al-Quran suarat An-Nisa' ayat 32

"Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagaimana dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu". (Q.S An-Nisa' : 32)

2. Iri yang Sifatnya Positif dan Diperbolehkan

Selain iri yang dilarang, ada juga iri yang diperbolehkan. Iri seperti ini diperbolehkan asal tujuannya adalah untuk mendekatkan diri pada Allah. Misalkan kita iri dengan mereka yang dianugerahkan Al-Quran dan mengamalkan dalam kesehariannya atau secara ringkasnya kita iri terhadap mereka yang shalih dan beramal. Atau kita iri terhadap mereka yang mempunyai banyak harta dan membelanjakan hartanya di jalan Allah atau ringkasnya mereka yang kaya namun dermawan. 

Iri dalam konteks ini tentu diperbolehkan, dan tentu tujuannya baik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Namun bukan berarti berharap kebaika itu hilang dari orang yang kita irikan tersebut. Dengan sifat iri itu lalu membuat kita semakin dekat dengan Allah lantas kita menjadi bersemangat untuk terus berubah dengan berlomba-lomba dalam kebaikan. 

Lalu Bagaimana Solusi agar tidak ada rasa iri dalam hati?
Solusinya adalah sebagai berikut, silahkan sahabat baca dan fahami.

1. Menyadari Bahwa Kita Istimewa

Menyadari bahwa kita istimewa, lantas kita update status bahwa kita istimewa, bukan begitu sahabat. Sadari bahwa setiap kita dikaruniakan keistimewaan masing-masing. Hal ini terbukti dalam awal kehidupan kita, kita bisa menjadi kita karena kita istimewa diantara ribuan saingan kita dalam proses penciptaan kita manusia. 

Dan tentu perlu disadari bahwa tidak semua orang mamiliki keistimewaan dalam segala hal, pasti ada yang lebih cenderung dalam dirinya. Lihatlah kembali dalam sejarah islam, Imam Syafi'i memiliki kelebihan yang tidak dimiliki Imam Hanafi, tetapi Imam Hanafi memiliki kelebihan yang tidak dimiliki Imam Syafi'i. Karena beliau dan kita adalah manusia biasa tidak luput dari kesalahan dan khilaf, dan kita diciptakan dengan keistimewaan berbeda-beda satu dengan yang lain.

2. Ikhtiar atau Berusaha

Seperti dijelaskan dalam ayat sebelumnya bahwa kebaikan dalam diri seseorang entah itu jabatan, derajat, atau sejenisnya pastilah diraih berdasarkan hasil usahanya. Jadi pointnya adalah saingi mereka dalam usaha mereka. Karena hasil adalah buah dari proses, dan proses itu adalah cara kita berikhtiar.

3. Tawakkal (Berdo'a Minta Petunjuk)

Setelah melakukan usaha, maka selanjutnya adalah berdo'a kepada Allah. Minta diberikan petunjuk dan diberikan solusi terbaik, jangan memaksa. Karena Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk kita. Karena Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan. Karena Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

Sekian pembahasan kali ini, semoga bermanfaat. 
Sumber materi : Video Tausyah Ustadz Adi Hidayat

Terimakasih sudah bersedia membaca,

Salam Literasi...

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar, jangan lupa follow twitter @ilhamsadly, Instagram @ilhamsadli atau subscribe email anda untuk mendapatkan update terbaru. Terimakasih sudah berkunjung