Dialah Kado Terindah Dalam Hidupku

Dialah Kado Terindah Dalam Hidupku
Ilhamsadli.com,- Astagfirullah, usia bertambah tetapi masih saja kualitas hidup begini-begini saja. Sedih rasanya, karena umur 24 bukannya muncul sebagai pribadi yang lebih baik namun malah biasa-biasa saja. Kebiasaan buruk masih ada, kebiasaan baik belum berkembang. Monoton, mungkin itu sebuatn untuk jalan ninjaku (perjalanan hidupku, maksudnya). :p

Ahad pagi tanggal 8 Mei 1994, tepatnya 24 tahun lalu aku lahir dari rahim seorang wanita hebat. Dialah Ummi (begitu aku memanggilnya), kado terindah dari-Nya padaku seorang hamba yang masih lupa bersyukur. Sedari kecil beliau mendidik dengan harapan anaknya menjadi orang hebat suatu saat nanti. Hingga munculah karakter seorang ilham sadli. Oh ya ini kisahku lho ya, lagi pengen nulis aja sih. Biarkan aku sedikit bercerita mengenai perjalanan hidup seorang sadli kecil, yaitu aku sendiri.

Masa Kecil Kurang Bahagia? Tidak Juga

Sadli kecil terlahir dari keluarga yang sederhana. Menurut cerita Ummi, aku di daftarkan ke taman kanak – kanak karena suatu waktu gak sengaja lewat sekolah ketika perjalanan ke rumah nenek di dusun yang berbeda. Jaraknya lumayan jauh, karena harus melewati 2 dusun terlebih dahulu dan ditempuh dengan jalan kaki. Nyampe rumah nenek, aku bisa nyanyi walaupun hanya sekali mendengar nyanyian anak sekolahan yang dilewati, kata ummi sih gitu. 

Dan seingatku, aku hampir terisolasi dari dunia luar. Karena teman bermain hanya sepupu atau sekedar bermain bareng paman. Namun itu hanya ketika masih TK saja. Dari situlah kemudian aku jarang bermain dengan anak lainnya, kecuali kalau ikutan mbak yang bermain di RT sebelah, hahaha.
Okey, skip kehidupan masa TK. Karena aku gak terlalu ingat, hehehe.

2 Tahun Kemudian di Bikini buttom, eh ini bukan serial Spongebob yak.

Kehidupan masa kecilku beraat, tidak seperti anak seumuranku pada umumnya. Karena mungkin kehidupan mereka penuh dengan bermain, sedangkan aku berbeda sedari SD. Bayangkan saja, anak umur 6 tahun jualan es lilin keliling menggunakan rombong (nama wadahnya di daerahku). Jadi sepulang sekolah, ganti pakaian lalu ngambil barang jualan dan keliling desa buat jualan. Bukan karena gak diberi uang jajan, tetapi waktu itu ingin punya tabungan sendiri. Entah dapat ilham darimana, seingatku emang sedang pengen nabung. Dan alhamdulillah laku terus, kecuali pada suatu waktu. 

Hujan mengguyur daerahku, jadi es lilinna hanya laku 5 biji doang, sisanya masih puluhan. Oh ya, waktu itu harganya masih 100 rupiah untuk 1 biji es. Jadi sempat pake uang tabungan buat nomboki modalnya, namanya juga anak kecil yang takut kena marah. Lalu Es-nya tak bawa pulang dan uangku diganti beliau, hehe. Siangnya jualan es, sorenya ngembala kambing. Malamnya ngaji dan belajar, kalau anak sekarang mungkin akan bilang kalau masa kecilku kurang bahagia. Tapi sebenarnya aku sangat bahagia, karena kebiasaan itu akhirnya sudah terbiasa dengan kesibukan yang full dari pagi sampai malam. Ya begitulah kehidupanku sedari SD. Kalau diceritakan gak bakalan habis, jadi singkatnya seperti itu. 

Aku Sekuat Ini Karena Ummi

Banyak sekali yang bilang, aku kuat dan seperti tidak punya masalah. Padahal yang berucap tidak tahu kalau aku sebenarnya rapuh, dan Ummi yang menguatkanku. Ya, mereka adalah keluarga dan sahabat, terutama Ummi. Dari sekian banyak anggota keluarga, aku paling dekat dengan Ummi. Bahkan hafal setiap detail tentangku, apalagi kalau lagi bingung beliau selalu tahu. Entah karena naluri serorang ibu atau memang karena kedekatan antara kami. Bersyukur memiliki orang hebat seperti beliau. Wanita hebat, dan pendengar setia keluh kesah anaknya.

Tapi sekuat-kuatnya aku, beliau masih lebih kuat. Dan kami saling menguatkan, karena begitulah keluarga seharusnya. Saking dekatnya kami, beliau ingin suatu saat nanti ketika aku menikah beliau ingin tinggal bersamaku. Maka dari situlah muncul satu kriteria calon istri masa depan, yakni dia yang siap menjadi wanita kedua dan terlebih lagi bersedia tingga bersama Ummi. Mungkin berat, tetapi percayalah beliau lebih baik dari aku yang hanya rengginang dalam kaleng kong guan, sedangkan beliau adalah mutiara di dasar lautan.

Lah, kok larinya ke persoalan jodoh yak. Ah sudahlah.

Jadi pada umur 24 tahun ini, aku bersyukur telah dilahirkan diantara mereka. Mereka yang menguatkanku. Jika ada yang memberikan doa terbaik padaku, jika doa terbaik itu bisa diberikan maka akan aku berkan pada mereka yang sudah menguatkanku. Karena apalah aku tanpa mereka. 

9 comments:

  1. Tanpa orang tua kita bukan apa2. Dan yang paling menyedihkan saat angka usia kita bertambah, beliau jg bertambah tua :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga beliau tetap diberikan kesahatan...

      Delete
  2. Salut dengan kisah mas Ilham kecil dulu ..
    Tak gengsi berjualan es setelah pulang sekolah.

    Ortuku juga mengajarkan aku untuk mandiri sejak kecil,mas.
    Kalau punya sesuatu keinginan harus berjuang.. jika uang jajan tak cukup untuk beli yang aku incar, harus cari cara dapat uang tambahan.
    Jadinya aku kecil jualan aneka jajanan ke temen2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. semua karena orang hebat seperti mereke memberikan arahan serta menguatkan bang :D

      Delete
  3. Ciyeeee yang udah 24 tahun. Kapan nikah

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga tahun ini ramadhan terakhir melajang mbak :D

      Delete
  4. Semoga segara berkeluarga ya kak ilham

    ReplyDelete
  5. Selamat hari kelahiran ya Ilham, semoga di usia 24 tahun ini semakin barokah

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar, jangan lupa follow twitter @ilhamsadly, Instagram @ilhamsadli atau subscribe email anda untuk mendapatkan update terbaru. Terimakasih sudah berkunjung